Rumah-rumah adat di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Hal inilah yang memperkaya keragaman etnis dan budaya Indonesia. Begitu pula di Kalimantan Selatan, Palangkaraya yang juga memiliki keunikan sebagai ibu kotanya. Seperti daerah lain di Kalimantan, Kalimantan Selatan masih dipengaruhi suku-suku besar seperti Banjar Kalimantan Selatan. 

Selama ini pengunjung hanya mengetahui bahwa Rumah Bubungan Tinggi merupakan rumah adat Banjar yang ada di Kalimantan Selatan. Padahal, masih banyak jenis rumah adat lainnya di Kalimantan Selatan.

Rumah Banjar merupakan rumah adat di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan. Terdapat banyak rumah adat Banjal di Kalimantan dengan filosofi dan bentuk yang berbeda-beda. Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan rumah adat tersebut mulai sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan sulitnya warga menemukan kayu sebagai material utama rumah tradisional, sehingga harus mengganti kayu dengan beton yang memunculkan konsep minimalis.

Jenis Rumah Adat Banjar Kalimantan Selatan

Inilah 8 jenis rumah adat Banjar Kalimantan Selatan:

Rumah Bubungan Tinggi

rumah adat bubungan tinggi
Rumah adat bubungan tinggi / Indonesiakaya

Salah satu rumah adat Banjar yang paling populer adalah rumah adat Banjar Bubungan Tinggi. Di kerajaan lama, rumah ini adalah tempat yang tinggi bagi raja dan keluarganya. Nama Bubungan Tinggi sendiri mengacu pada puncak menara dengan kemiringan 46 derajat. Keunikan rumah adat Bubungan Tinggi yaitu mempunyai struktur panggung yang tidak menempel dengan tanah. Jadi tema rumah Banjar Bubungan Tinggi sendiri adalah bunga dan motif bunga.

Referensi terkait: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/mengintip-keunikan-rumah-adat-khas-banjar-kalimantan-selatan

Rumah Gajah Baliku

Rumah Gajah Baliku mirip dengan rumah Bubungan Tinggi namun rumah Gajah Baliku memiliki ruang tamu yang tidak berlapis. Hal ini dikarenakan atap ruang tamu rumah tidak menggunakan atap Sindang Langit ataupun atap sengkuap. Rumah Gajah Baliku pernah dihuni oleh kerabat dan anak Raja Banjar dan memiliki kemiringan hanya 60 derajat.

Rumah Balai Laki

Rumah tradisional Banjar Balai Laki adalah kediaman penjaga keamanan Kesultanan Banjar dan pemegang mantra. Ukuran rumah adat di Balai Laki lebih kecil dibandingkan dengan rumah adat Palimbangan. Pasalnya, rumah di Palimbangan kerap ditempati oleh pengusaha kaya raya. 

Rumah Balai Bini

Ada pula rumah tradisional Balai Bini yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal putri raja dan anggota kerajaan wanita. Salah satu ciri yang membedakan rumah balai bini adalah atapnya mirip joglo dan juga terdapat atap sindang.

Rumah Lanting

Rumah jenis ini mengapung di atas tiga buah batang kayu besar. Penempatan Rumah Lanting seperti itu karena saat gelombang dari kapal hilir yang menghantam sungai membuat rumah Lanting selalu berguncang.

Rumah Adat Banjar Palimasan

Selain itu, terdapat juga rumah adat Palimasan yang memiliki atap berbentuk perisai membentuk atap piramida. Ciri khas lain dari rumah Palimasan adalah memiliki bentuk persegi panjang, banyak dekorasi, dan tangga masuk dari halaman luar ke bagian dalam.

Rumah Tradisional Cacak Burung

Berikutnya adalah rumah Cacak Burung yang adalah tempat tinggal rakyat biasa. Secara umum, yang tinggal di sini adalah petani dan pekerja. Rumah adat Cacak Burung ini memiliki ukuran yang sangat panjang dan memiliki atap pelana serta atap piramida dalam posisi horizontal.

Letak atap piramida biasanya lebih tinggi dibandingkan letak atap atau pemuung atap depan yang menjorok ke atas ruang tamu. Ini adalah simbol Cacak Burung, dan umumnya dianggap sebagai tanda magis yang dapat menolak bala tambahan / negatif.

Rumah Tadah Alas

Rumah adat Tadah Alas berasal dari pengembangan Rumah Balai Bini. Perkembangan ini terlihat dari tambahan lapisan pelindung atap yang berfungsi sebagai kanopi pada bagian depan. Penggunaan kanopi ini membuat rumah adat ini dikenal dengan nama rumah Tadah Alas.

Semula merupakan bangunan induk yang memiliki struktur persegi panjang yang memanjang dari depan ke belakang, dan bagian depan ditutup dengan penutup pelindung. Atap pelindung ini disebut “Atap Gajah” dalam bahasa Banjar.Kemudian atap pelindung lainnya ditambahkan lagi ke atap depan. Dengan demikian, atap tambahan dapat menutupi sebagian ruangan Surambi Pamedangan. Konsep ini dari segi bentuknya juga bisa disebut Tadah Alas, rumah adat khas Banjar Kalimantan Selatan.