Melirik Potensi Biohidrogen dari Limbah Sawit (POME)

M

Artikel ini disponsori oleh: Alat Laboratorium

Hidrogen dalam bentuk gas pertama kali ditemukan pada awal abad ke-16 oleh Henry Cavendish yang dapat menghasilkan air jika direaksikan dengan oksigen. Berdasarkan penemuan ini, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa pembakaran hidrogen dapat memproduksi energi listrik salah satunya menggunakan instrumen yang lebih dikenal dengan istilah Fuel Cell. Pada dasarnya, energi dalam bentuk gas hidrogen bukan merupakan sumber energi primer melainkan hanya berperan sebagai energi carrier. Hal ini dikarenakan, gas hidrogen bukan senyawa yang tersedia secara alami di alam namun terbentuk dengan menggunakan energi terlebih dahulu dalam proses pembentukannya. Oleh karena itu gas hidrogen lebih tepat dikatakan sebagai energi perantara dibandingkan sumber energi utama.

Walaupun hanya energi perantara, energi hidrogen masih dianggap potensial untuk dijadikan sebagai sumber energi di masa depan dengan beberapa kelebihan dibandingkan sumber energi yang lain, diantaranya:

  1. Kerapatan energi tinggi (122 MJ/kg)
  2. Hasil pembakaran bebas emisi karbon
  3. Efisiensi pembakaran yang cukup tinggi (50%)
  4. Dapat dihasilkan dari limbah organik

Metode Produksi Hidrogen

Sebagaimana dijelaskan pada tulisan di atas, energi hidrogen dalam bentuk gas tidak tersedia secara alami melainkan harus diproduksi dari bentuk energi lainnya. Oleh karena itu, terdapat beberapa metode untuk memproduksi gas hidrogen, diantaranya metode eletrolisis, gasifikasi, dan steam reforming. Ketiga metode produksi hidrogen di atas, terdapat suatu kelemahan dimana energi dan biaya yang dibutuhkan cukup besar. Salah satu metode produksi hidrogen yang cukup potensial untuk dilakukan dalam skala industri adalah produksi biohidrogen dari limbah organik. Kelebihan dari metode produksi berbasis biokonversi ini adalah konsumsi energi yang tidak terlalu besar, bahan dasarnya yang tersedia melimpah, serta proses produksi yang relatif sederhana.

Dalam produksi biohidrogen ini, salah satu bahan dasar yang dapat digunakan adalah limbah kelapa sawit (POME). Penelitian yang telah dilakukan menujukkan bahwa terdapat beberapa mikroba yang dapat menghasilkan gas hidrgoen dari limbah POME diantaranya Clostridium butyricum, Thermoanaerobacterium sp., dan mikroflora anaerob. Diantara jenis mikroba di atas, mikroba jenis Thermoanaerobacterium sp. Membutuhkan suhu tinggi dalam proses produksinya sehingga hal ini menyebabkan sulitnya proses produksi dan kebutuhan energi yang cukup besar (O-Thong, 2007).

Dalam prosesnya, produksi biohidrogen menggunakan mikroba memiliki beberapa faktor tertentu yang dapat mempengaruhi secara langsung produktivitas perolehan biohidrogen. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, berikut kondisi kultur yang harus diperhatikan diantaranya, kadar pH, temperatur, pemberian nutrisi pada medium dan inokulum yang digunakan. Beberapa hasil penelitian produksi biohidrogen dari limbah POME dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Perbandingan efisiensi proses fermentasi hidrogen

Proses FermentasiSubstratTipeLaju Produksi H2
BatchPOMEIMC22.7 mmol/L h
BatchPOMESPC12.3 mmol/L h
KontinuPOMESPC16.9 mmol/L h
Feed BatchPOMESPC19.4 mmol/L h
KontinuPOMESPC12.4 mmol/L h

IMC: immobilized cells system
SPC: suspended cells system

About the author

Editorial

Add Comment

By Editorial

Editorial

Digital Marketing Online

Kumpulan informasi bermutu untuk para internet marketer. Pengguna setia WordPress dan pecinta Gutenberg.